Headlines News :
Home » » Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen

Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen

Written By Andika Kulap on Tuesday, August 17, 2010 | 4:35 AM

BAB I
KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

A.  Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Istilah Sistem Informasi Manajemen/SIM telah banyak didefinisikan oleh
para ahli manajemen dan komputer dengan cara pandang yang berbeda-beda.
Istilah tersebut telah dikenal sejak tahun 1960-an. Konsep Sistem Informasi
Manajemen saat itu berkembang seiring perkembangan fokus penggunaan
teknologi komputer. 

Relevansi
Pembahasan pada bab ini sangat penting untuk dipahami mengingat sifat
bahasannya yang mendasar dan konseptual. Bahasan tentang Sistem, Informasi,
dan Manajemen dimaksudkan agar mahasiswa mampu memahami secara baik
istilah SIM sehingga dapat memberikan kesadaran bahwa penerapan SIM untuk
tujuan utama menghasilkan informasi dalam mendukung pengambilan keputusan
manajemen.

Kompetensi Dasar 
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian Sistem Informasi Manajemen.

B.  Penyajian
1.  Definisi Sistem Informasi Manajemen
Istilah Sistem Infomasi Manajemen sebenarya terdiri atas tiga kata kunci,
yaitu sistem, informasi, dan manajemen. Sebagaimana telah disinggung di atas,
cara yang lebih baik untuk memberikan definisi Sistem Infomasi Manajemen
adalah dimulai dengan memahami istilah sistem, informasi, dan manajemen.
Seanjutnya, berdasarkan pemahaman yang diperoleh dapat digunakan untuk
memberikan definisi tentang Sistem Infomasi Manajemen, yaitu menggabungkan
ketiga kata kunci tersebut.
 
1.1 Definisi Sistem 
Sebagaimana istilah Sistem Informasi Manajemen/SIM, sistem juga telah
didefinisikan oleh para ahli dalam berbagai cara yang berbeda. Perbedaan tersebut
terjadi karena perbedaan cara pandang dan lingkup sistem yang ditinjau. 
Secara umum, sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hal atau
kegiatan atau elemen atau subsistem yang saling bekerja sama atau yang
dihubungkan dengan cara-cara tertentu sehingga membentuk satu kesatuan untuk
melaksanakan suatu fungsi guna mencapai suatu tujuan. 
Model umum suatu sistem adalah terdiri atas masukan (input), pengolah
(process), dan keluaran (output), sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.1.

Suatu sistem mempunyai karakteristik sebagai berikut (Sutanta,2003):
  Mempunyai komponen (components)
Komponen sistem adalah segala sesuatu yang menjadi bagian penyusun
sistem. Komponen sistem disebut sebagai subsistem, dapat berupa benda
nyata ataupun abstrak, misalnya orang, benda, hal atau kejadian yang terlibat
di dalam sistem. 
  Mempunyai batas (boundary)
Batas sistem diperlukan untuk membedakan satu sistem dengan sistem yang
lain. Tanpa adanya batas sistem, maka sangat sulit untuk menjelaskan suatu
sistem. Batas sistem akan memberikan batasan scope tinjauan terhadap sistem.
  Mempunyai lingkungan (environments)
Lingkungan sistem adalah segala sesuatu yang berada di luar sistem.
Lingkungan sistem dapat menguntungkan ataupun merugikan. Umumnya,
lingkungan yang menguntungkan akan selalu dipertahankan untuk menjaga
keberlangsungan sistem. Sedangkan lingkungan sistem yang merugikan akan
diupayakan agar mempunyai pengaruh seminimal mungkin, bahkan jika
mungkin ditiadakan.

  Mempunyai penghubung/antar muka (interface) antar komponen
Penghubung/antarmuka merupakan komponen sistem, yaitu segala sesuatu
yang bertugas menjembatani hubungan antar komponen dalam sistem. 
Dalam dunia komputer, penghubung/antarmuka dapat berupa berbagai macam
tampilan dialog layar monitor yang memungkinkan seseorang dapat dengan
mudah mengoperasikan sistem aplikasi komputer yang digunakannya.
  Mempunyai masukan (input)
Masukan merupakan komponen sistem, yaitu segala sesuatu yang perlu
dimasukkan ke dalam sistem sebagai bahan yang akan diolah lebih lanjut
untuk menghasilkan keluaran yang berguna. Dalam Sistem Informasi
Manajemen, masukan disebut sebagai data.
  Mempunyai pengolahan (processing)
Pengolah merupakan komponen sistem yang mempunyai peran utama
mengolah masukan agar menghasilkan keluaran yang berguna bagi para
pemakainya. Dalam Sistem Informasi Manajemen, pengolahan adalah berupa
program aplikasi komputer yang dikembangkan untuk keperluan khusus.
Program aplikasi tersebut mampu menerima masukan, mengolah masukan,
dan menampilkan hasil olahan sesuai dengan kebutuhan para pemakai.
  Mempunyai keluaran (output)
Keluaran merupakan komponen sistem yang berupa berbagai macam bentuk
keluaran yang dihasilkan oleh komponen pengolahan. Dalam Sistem
Informasi Manajemen, keluaran adalah informasi yang dihasilkan oleh
program aplikasi yang akan digunakan oleh para pemakai sebagai bahan
pengambilan keputusan.
  Mempunyai sasaran (objectives) dan tujuan (goal)
Setiap komponen dalam sistem perlu dijaga agar saling bekerja sama dengan
harapan agar mampu mencapai sasaran dan tujuan sistem. Sasaran berbeda
dengan tujuan. Sasaran sistem adalah apa yang ingin dicapai oleh sistem untuk
jangka waktu yang relatif pendek. Sedangkan tujuan merupakan kondisi/hasil
akhir yang ingin dicapai oleh sistem untuk jangka waktu yang panjang. Dalam
hal ini, sasaran merupakan hasil pada setiap tahapan tertentu yang mendukung
upaya pencapaian tujuan.


  Mempunyai kendali (control)
Setiap komponen dalam sistem perlu selalu dijaga agar tetap bekerja sesuai
dengan peran dan fungsinya masing-masing. Hal ini bisa dilakukan jika ada
bagian yang berperan menjaganya, yaitu bagian kendali. Bagian kendali
mempunyai peran utama menjaga agar proses dalam sistem dapat berlangsung
secara normal sesuai batasan yang telah ditetapkan sebelamnya. Dalam Sistem
Informasi Manajemen, kendali dapat berupa validasi masukan, validasi proses,
maupun validasi keluaran yang dapat dirancang dan dikembangkan Secara
terprogram.
  Mempunyai umpan balik (feedback)
Umpan balik diperlukan oleh bagian kendali (control) sistem untuk mengecek
terjadinya penyimpangan proses dalam sistem dan mengembalikannya ke
dalam kondisi normal.

Dalam gambar tersebut, suatu subsistem berkaitan dengan subsistem
lainnya dihubungkan oleh  interface, membentuk satu kesatuan guna mencapai
tujuan (objectives), dan pada akhirya diharapkan akan mencapai  goal. Suatu
subsistem bisa jadi memuat komponen input, process, dan output yang
dikendalikan oleh bagian control yang melakukan kendali berdasarkan feedback.
Dalam suatu sistem, subsistem 1 bisa juga berperan sebagai input bagi subsistem
2 yang berperan sebagai process.

1.2 Data dan Informasi
Data dapat didefinisikan sebagai bahan keterangan tentang kejadian-
kejadian nyata atau fakta-fakta yang dirumuskan dalam sekelompok lambang
tertentu yang tidak acak yang menunjukkan jumlah, tindakan, atau hal. Data dapat
berupa catatan-catatan dalam kertas, buku, atau tersimpan sebagai file dalam basis
data. Data akan menjadi bahan dalam suatu proses pengolahan lata. Contoh data
adalah catatan identitas pegawai, catatan transaksi pembelian, catatan transaksi
penjualan, dan lain-lain.
Informasi merupakan hasil pengolahan data sehingga menjadi bentuk yang
penting bagi penerimanya dan mempunyai kegunaan sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan yang dapat dirasakan akibatnya secara langsung saat itu
juga atau secara tidak langsung pada saat mendatang (Amsyah,2000,
Sutanta,2003). 
Untuk memperoleh informasi, diperlukan adanya data yang akan diolah
dari unit pengolah. Contoh informasi adalah daftar pegawai berdasarkan
departemen, daftar pegawai berdasarkan golongan, rekapitulasi transaksi
pembelian pada akhir bulan, rekapitulasi transaksi penjualan pada akhir bulan, dan
lain-lain.
 
Dalam gambar tersebut, input adalah data yang akan diolah oleh unit
pengolah, dan output adalah informasi sebagai hasil pengolahan data yang telah
diinputkan tersebut. Suatu unit penyimpan diperlukan sebagai alat simpanan data,
pengolah, maupun informasi.

1.2.1 Fungsi Informasi
Suatu informasi dapat mempunyai beberapa fungsi (Sutanta,2003), antara
lain:
a.  Menambah pengetahuan
Adanya informasi akan menambah pengetahuan bagi penerimanya yang dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mendukung proses
pengambilan keputusan.
b.  Mengurangi ketidakpastian
Adanya informasi akan mengurangi ketidakpastian karena apa yang akan
terjadi dapat diketahui sebelumnya, sehingga menghindari keraguan pada saat
pengambilan keputusan.
c.  Mengurangi resiko kegagalan
Adanya informasi akan mengurangi resiko kegagalan karena apa yang akan
terjadi dapat diantisipasi dengan baik, sehingga kemungkinan terjadinya
kegagalan akan dapat dikurangi dengan pengambilan keputusan yang tepat.
d.  Mengurangi keanekaragaman/variasi yang tidak diperlukan 
Adanya informasi akan mengurangi keanekaragaman yang tidak diperlukan,
karena keputusan yang diambil lebih terarah.
e.  Memberi standar, aturan-aturan, ukuran-ukuran, dan keputusan-keputusan
yang menentukan pencapaian sasaran dan tujuan.
Adanya informasi akan memberikan standar, aturan, ukuran, dan keputusan
yang lebih terarah untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan
secara lebih baik berdasar informasi yang diperoleh.

1.2.2 Biaya Informasi
Menurut pengalaman, biaya pengolahan data untuk suatu organisasi agar
dapat menghasilkan informasi tingkat tinggi/berkualitas berkisar antara 5%-15%

dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan oleh organisasi. Namun demikian,
dalam organisasi tertentu (misal organisasi yang mempunyai bidang usaha
keuangan) biaya tersebut bisa mencapai hingga 50% dari total pengeluaran.
Biaya informasi meliputi komponen-komponen biaya yang harus
dikeluarkan, berupa:
a.  Biaya perangkat keras
Biaya perangkat keras dapat meliputi biaya tetap (fixed cost) dan akan
meningkat untuk tingkat-tingkat mekanisasi yang lebih tinggi.
b.  Biaya analisis, perancangan dan pelaksanaan sistem
Biaya analisis, perancangan dan pelaksanaan sistem dapat meliputi biaya
untuk perumusan suatu metodologi untuk prosedur-prosedur pengolahan data
secara keseluruhan dan persiapan pembuatan program aplikasi komputer.
c.  Biaya tempat dan lingkungan
Biaya tempat dan lingkungan bersifat semi variabel.
d.  Biaya perubahan
Biaya perubahan dapat meliputi biaya yang diperlukan untuk setiap jenis
perubahan dari satu metode pengolahan data tertentu ke metode lain.
e.  Biaya operasi
Biaya operasi merupakan biaya variabel yang antara lain meliputi gaji
pegawai, pemeliharaan fasilitas dari sistem perlengkapan barang-barang, dan
fasilitas bantuan.

1.2.3 Nilai Informasi
Menurut Davis (1985) nilai informasi dikatakan sempurna apabila
perbedaan antara kebijakan optimal tanpa informasi yang sempurna dan kebijakan
optimal menggunakan informasi yang sempurna dapat dinyatakan dengan jelas.
Berdasarkan informasi-informasi itu, maka seseorang manajer/pemimpin dapat
mengambil keputusan secara lebih baik.
Sebagai contoh, keputusan yang diambil tanpa menggunakan informasi
yang sempurna adalah meningkatkan jumlah produksi pada tahun mendatang.
Ternyata, kenyataannya tidak ada kenaikan kebutuhan di pasar. Akibatnya,
perusahaan justru mengalami kerugian. Padahal, berdasarkan informasi sempurna

yang tersedia, memang tidak perlu menaikkan jumlah produksi. Dalam kondisi
ekstrim seperti ini, maka keputusan yang diambil secara sembarangan akan
merugikan perusahaan. Jika saja keputusan diambil dengan menggunakan
informasi yang ada tentu saja tidak mengakibatkan kerugian.
Dalam contoh yang lain, jika upaya promosi mampu meningkatkan jumlah
omzet penjualan dalam jumlah yang signifikan, maka semestinya upaya tersebut
perlu dilanjutkan. Sebaliknya jika upaya promosi tidak dilanjutkan, ternyata
jumlah omzet penjualan mengalami penurunan yang tajam. Jika keputusan
diambil secara sembarangan dan justru menurunkan upaya promosi, maka
perusahaan jelas mengalami kerugian.
Nilai suatu informasi dapat ditentukan berdasarkan sifatnya. Terdapat 10
(sepuluh) sifat yang dapat menentukan nilai informasi (Sutanta,2003), yaitu:
a.  Kemudahan dalam memperoleh
Informasi mempunyai nilai yang lebih tinggi apabila dapat diperoleh secara
mudah. Informasi yang penting dan sangat dibutuhkan menjadi tidak bernilai
jika sulit diperoleh.
Informasi dapat diperoleh dengan mudah jika sistem dilengkapi oleh basis
data dan bagian pengolah yang mampu mengolah data dengan baik untuk
memenuhi segala kebutuhan informasi secara mudah.
b.  Sifat luas dan kelengkapannya
Informasi mempunyai nilai yang lebih tinggi apabila mempunyai lingkup/
cakupan yang luas dan lengkap. Informasi sepotong dan tidak lengkap menjadi
tidak bernilai, karena tidak dapat digunakan secara baik. Sifat luas dan
lengkap tersebut memerlukan dukungan basis data yang cukup lengkap dan
terstruktur dengan baik.
c.  Ketelitian (accuracy)
Informasi mempunyai nilai yang lebih tinggi apabila mempunyai ketelitian
yang tinggi/akurat. Informasi menjadi tidak bernilai jika tidak akurat, karena
akan mengakibatkan kesalahan pengambilan keputusan. Informasi yang akurat
dapat diperoleh jika basis data yang tersedia sebagai sumber informasi
memuat data yang valid, baik tipe, bentuk, maupun format datanya. Hal ini
memerlukan adanya proses validasi setiap data yang di-input-kan ke dalam

basis data. Proses validasi perlu dilakukan sejak pertama kali data diinputkan,
sehingga basis data terhindar dan data yang tidak benar. Data yang salah akan
menghasilkan informasi hasil olahan yang salah pula. Dalam sistem informasi,
saiipah data akan menghasilkan sampah pula (garbage in garbage out).
d.  Kecocokan dengan pengguna (relevance)
Informasi mempunyai nilai yang lebih tinggi apabila sesuai dengan kebutuhan
penggunanya. Informasi berharga dan penting menjadi tidak bernilai jika tidak
sesuai dengan kebutuhan penggunanya, karena tidak dapat dimanfaatkan
untuk pengambilan keputusan.
e.  Ketepatan waktu
Informasi mempunyai nilai yang lebih tinggi apabila dapat diterima oleh
pengguna pada saat yang tepat. Informasi berharga dan penting menjadi tidak
bernilai jika terlambat diterima/usang, karena tidak dapat dimanfaatkan pada
saat pengambilan keputusan. Informasi tepat waktu dapat diperoleh jika ada
dukungan sistem informasi yang mampu mengolah data secara cepat.
Penggunaan sistem komputer dalam sistem informasi akan memberikan
dukungan yang sangat berarti untuk memperoleh data tepat waktu, karena
komputer mampu mengolah data dengan kecepatan yang sangat tinggi.
f.  Kejelasan (clarity)
Informasi yang jelas akan meningkatkan kesempurnaan nilai informasi.
Kejelasan informasi dipengaruhi oleh bentuk dan format informasi.
Dibandingkan dengan bentuk teks atau deskriptif, informasi dalam bentuk
tabel atau grafik banyak menjadi pilihan, karena dapat dibaca dan dipahami
dengan lebih mudah. Hal ini memerlukan analisis kebutuhan bentuk dan
format informasi yang diperlukan, sehingga dapat digunakan sebagai dasar
perancangan output yang tepat. Penggunaan sistem komputer akan membantu
memenuhi kebutuhan tersebut. 
g.  Fleksibilitas/keluwesan-nya
Nilai informasi semakin sempuma apabila memiliki fleksibilitas tinggi.
Fleksibilitas informasi diperlukan oleh para manajer/pemimpin pada saat
pengambilan keputusan. Fleksibilitas informasi berhubungan dengan bentuk

dan format tampilan informasi. Perubahan bentuk dan format tampilan
informasi dapat dilakukan secara mudah dengan memanfaatkan komputer.
h.  Dapat dibuktikan
Nilai informasi semakin tinggi apabila informasi tersebut dapat dibuktikan
kebenarannya. Kebenaran informasi bergantung pada validitas data sumber
yang diolah.
i.  Tidak ada prasangka
Nilai informasi semakin tinggi apabila informasi tersebut tidak menimbulkan
prasangka dan keraguan adanya kesalahan informasi. Kesalahan tersebut dapat
teradi akibat kesalahan data atau prosedur pengolahan. Informasi dapat
menimbulkan keraguan jika tidak wajar.
j.  Dapat diukur
Informasi untuk pengambilan keputusan seharusnya dapat diukur agar dapat
mencapai nilai yang tinggi. Pengukuran informasi umumnya dimaksudkan
untuk mengukur dan melacak kembali validitas data sumber yang digunakan.

1.2.3 Mutu Informasi
Hasil penyelidikan tentang sikap para manajer terhadap Sistem Informasi
Manajemen menunjukkan bahwa 75% manajer menilai peningkatan mutu dan
jumlah informasi adalah hampir sama dipandang dari sudut pengaruhnya terhadap
prestasi kerja. Tetapi apabila diberi kesempatan memilih, maka lebih dari 90%
manajer menyukai peningkatan mutu informasi daripada jumlahnya.
Perbedaan mutu informasi disebabkan oleh penyimpangan atau kesalahan.
Pada umumnya kesalahan informasi merupakan masalah yang lebih sulit diatasi
karena tidak mudah menyesuaikannya dibandingkan jika hanya terjadi
penyimpangan informasi. Menurut Davis (1985), kesalahan informasi antara lain
disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
a.  Metode pengumpulan dan pengukuran data yang tidak tepat.
b.  Tidak dapat mengikuti prosedur pengolahan yang benar.
c.  Hilang/tidak terolahnya sebagian data.
d.  Pemeriksaan/pencatatan data yang salah.
e.  Dokumen induk yang salah.
f.  Kesalahan dalam prosedur pengolahan (misal: kesalahan program aplikasi
komputer yang digunakan).
g.  Kesalahan yang dilakukan secara sengaja.

Penyebab kesalahan tersebut dapat diatasi dengan cara-cara sebagai
berikut:
a.  Kontrol sistem untuk menemukan kesalahan
b.  Pemeriksaan internal dan eksternal
c.  Penambahan batas ketelitian data
d.  Instruksi dan pemakai yang terprogram secara baik dan dapat menilai adanya
kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.

1.3 Manajemen 
Secara umum manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses
merencanakan, menganggarkan, mengorganisasikan, mengarahkan,
mengkoordinasikan, mengawasi, dan melaporkan kegiatan masing-masing unit
organisasi agar keseluruhan tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan
efisien. 
Manajemen juga berarti sebagai kelompok pemimpin dalam organisasi.
Manajemen (management) adalah pekerjaan yang dikerjakan oleh manajer
(manager). Disebutkan bahwa pekerjaan manajer bersifat manajerial, di samping
itu manajer juga dapat diartikan sebagai pemimpin. Dengan demikian, untuk
mencapai tujuannya tiap organisasi memerlukan manajemen yang tepat dan dapat
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. 
Manajemen dapat diartikan sebagai proses memanfaatkan berbagai sumber
daya yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan. Manajemen juga dapat
dimaksudkan sebagai suatu sistem kekuasaan dalam suatu organisasi agar orang-
orang menjalankan pekerjaan. Umumnya, sumber daya yang tersedia dalam
manajemen meliputi manusia, material, mesin, dan modal. Konsep sumber daya
manajemen ini akan menjadi bertambah ketika pembahasan difokuskan pada
Sistem Informasi Manajemen. Dalam Sistem Informasi Manajemen, sumber daya
manajemen meliputi tiga sumber daya tersebut ditambah dengan sumber daya

berupa informasi sehingga menjadi istilan 4M + 1 I (manusia, material, mesin
modal, dan informasi) (Leod,1996).
Dalam upaya memanfaatkan sumber daya manajemen tersebut, para
manajer akan melakukan tiga macam proses manajemen, yang meliputi:
a.  Perencanaan
b.  Pengendalian (meliputi: pengorganisasian, penggerakan, dan koordinasi)
c.  Pengambilan keputusan

Proses manajemen dapat dilakukan dalam tiga tingkatan kegiatan
manajemen. Tingkatan kegiatan manajemen dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.  Perencanaan dan pengendalian operasional
b.  Perencanaan taktis dan pengendalian manajemen
c.  Perencanaan strategis
Tingkat perencanaan operasional dan pengendalian manajemen merupakan
kegiatan manajemen pada tingkat paling rendah. Tingkat perencanaan taktis dan
pengendalian manajemen merupakan kegiatan manajemen tingkat menengah.
Sedangkan tingkat perencanaan strategis merupakan tingkat kegiatan manajemen
paling atas. Ketiga tingkatan kegiatan manajemen tersebut dapat digambarkan
sebagai sebuah piramida

2.  Sistem Informasi Manajemen
Istilah Sistem Informasi Manajemen (SIM) menunjukkan sistem-sistem
informasi fungsional yaitu sistem-sistem informasi yang diterapkan di fungsi-
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.13

fungsi organisasi, misalnya sistem informasi akuntansi, sistem informasi
pemasaran, dan sebagainya.
Ruang lingkup SIM tertuang pada kata pembentuknya, yaitu sistem,
informasi, dan manajemen. Dari ruang lingkup tersebut beberapa rumusan SIM
antara lain:
a.  SIM adalah pengembangan dan penggunaan sistem-sistem informasi yang
efektif dalam organisasi-organisasi (Kroenke,1989).
b.  SIM didefinisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan
informasi bagi beberapa pemakai yang mempunyai kebutuhan yang serupa
(Leod, 1996).
c.  SIM merupakan metode formal yang menyediakan informasi yang akurat dan
tepat waktu kepada manajemen untuk mempermudah proses pengambilan
keputusan dan membuat organisasi dalat melakukan fungsi perencanaan,
operasi secara efektif, dan pengendalian (Stoner,1996).

Menurut Burch dan Strater (Daihani,2001) Sistem Informasi Manajemen
adalah sekumpulan fungsi-fungsi yang bergabung dan secara sistematis: (a)
melaksanakan pengolahan data transaksi operasional, (b) menghasilkan informasi
untuk mendukung manajemen dalam melaksanakan aktivitas perencanaan,
pengendalian dan pengambilan keputusan, (c) menghasilkan berbagai laporan bagi
kepentingan eksternal organisasi.
Dari uraian dan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa SIM
adalah  suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna
mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen (perencanaan,
pengorganisasian, dan pengendalian) dalam suatu organisasi. 
Secara umum fungsi sistem informasi manajemen ada tiga, yaitu:
a.  Mengambil data (data capturing)
b.  Mengolah, mentrasformasikan, dan mengkonversi data menjadi informasi.
c.  Mendistribusikan informasi (reporting/disseminating) kepada para pemakai.

Secara konseptual terdapat perbedaan antara Sistem Informasi (SI) dan
Sistem Informasi Manajemen (SIM). Perbedaan keduanya terletak pada pada

3. Sistem Pengolahan Data
3.1 Unsur Pengolahan Data
Pengolahan data adalah serangkaian operasi atas informasi yang
direncanakan guna mencapai tujuan. Proses pengolahan data dapat meliputi
sebagian atau seluruh unsur pengolahan data berikut:
a.  Pengumpulan data (data capturing)
Pengumpulan data merupakan unsur pengolahan data yang berupa aktifitas
penangkapan data ke dalam dokumen dasar. Dokumen dasar umumnya berupa
lembar-lembar isian data yang harus diisi oleh para petugas atau orang lain di
lapangan secara langsung. Dalam hal ini dokumen dasar harus dirancang agar
jelas, mudah diisi, dan dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya
kesalahan data.
b.  Pembacaan (reading)

Pembacaan data merupakan proses membaca data dan dokumen dasar yang
digunakan agar dapat diproses lebih lanjut. Proses pembacan data dapat
dilakukan secara otomatis menggunakan alat bantu/mesin atau manual.
c.  Pemeriksaan (verifying)
Pemeriksaan diperlukan untuk mencegah, mengecek kemungkinan terjadinya
kesalahan data yang dibaca dari dokumen dasar.
d.  Perekaman (recording)
Perekaman data merupakan proses penyimpanan data yang telah dibaca dan
diverifikasi ke dalam alat penyimpanan data (memorj) yang digunakan. Dalam
sistem yang menggunakan komputer, perekaman data dilakukan ke dalam
memori sekunder (secondary memory) yang dapat berupa disk, hard disk, dan
lainnya.
e.  Penggolongan (classifying)
Penggolongan data diperlukan untuk memenuhi kebutuhan informasi
berdasarkan klasifikasi tertentu.
f.  Pengurutan (sorting)
Operasi pengurutan merupakan operasi yang penting dan selalu digunakan
dalam pengolahan data. Data perlu diurutkan dengan tujuan untuk
mempermudah pembacaan, pemahaman, dan pencarian informasi yang
disajikan. Pengurutan data dapat dilakukan dalam dua kemungkinan kondisi,
yaitu urut naik (ascending) atau urut turun (descending). Pengurutan dapat
dilakukan secara eksternal maupun secara internal dalam fisik penyimpanan
data. Data dalam basis data pada sistem komputer dapat diurutkan berdasarkan
kriteria tertentu dengan melakukan pengindekan file basis data.
g.  Peringkasan (sumarizing)
Peringkasan data dimaksudkan sebagai operasi untuk menghilangkan
kemunculan data secara berulang atau menyusun rekapitulasi dari sekumpulan
rincian data yang tersimpan sebagai basis data dalam memory.
h.  Perhitungan (calculating)
Perhitungan dalam pengolahan data dapat melibatkan seluruh operasi
aritmatika.
i.  Perbandingan (comparing)

Data sumber dalam basis data seringkali perlu dibandingkan dengan data yang
lain untuk mengetahui posisi atau kondisi data dalam sekumpulan data yang
direkam.
j.  Pemindahan (transmitting)
Dalam suatu sistem jaringan komputer, data perlu dikirimkan dari satu
terminal ke terminal yang lain melalui media transmisi data untuk diproses
lebih lanjut.
k.  Penampilan kembali (retrieving)
Informasi pada prinsipnya merupakan hasil penampilan kembali data yang
tersimpan pada media penyimpan dalam format tertentu yang ditetapkan
sebelumnya. Proses penampilan kembali data tersebut harus diusahakan agar
dapat dilakukan secara mudah dan cepat.
l.  Penggandaan (reproduction)
Penyajian informasi, khususnya dalam bentuk hardcopy perlu dikendalikan
agar informasi tersebut dapat dikirimkan kepada seluruh pemakai, sehingga
perlu ditetapkan jumlah eksemplar laporan yang harus dicetak. Cacah
eksemplar laporan yang harus disediakan, biasanya didasarkan pada jumlah
tembusan yang tercantum pada bagian bawah cetakan laporan.
m.  Penyebarluasan (distribution)
Distribusi informasi dapat dilakukan melalui media komunikasi data atau
dikirim dalam bentuk hardcopy kepada setiap pemakai sesuai daftar tembusan
dalam laporan.

3.2 Metode Pengolahan Data
Terdapat empat metode yang dapat diterapkan dalam sistern pengolahan
data, yaitu:
a.  Metode manual
Dalam metode ini semua operasi pengolahan data dilakukan dengan tangan
dan menggunakan alat bantu manual yang sederhana, misalnya pensil,
penggaris, kertas kerja, dan lain-lain.
b.  Metode elektromekanik (electromechanical)

Dalam metode ini operasi pengolahan data dikerjakan secara manual dibantu
dengan mesin-mesin elektronik sederhana. Sebagai contoh adalah seorang
karyawan yang bekerja dengan menggunakan mesin catat kolom (posting
machine).
c.  Metode sistem warkat (punched-card equipment)
Dalam metode ini operasi pengolahan data dilakukan dengan sistern warkat.
Prinsip sistem warkat dapat dijelaskan sebagai berikut. Data mengenai suatu
obyek dicatat dalam suatu kartu dengan sandi lubang. Sejumlah kartu yang
mengandung sejumlah data-data tentang obyek yang sama digabung bersama
untuk membentuk suatu berkas/file. Metode ini banyak digunakan pada masa
awal ditemukannya sistem komputer pada tahun 1950-an dan sudah tidak
dipakai saat ini.
d.  Metode elektronik komputer (electronic computer)
Dalam metode ini seluruh operasi pengolahan data dilakukan menggunakan
alat bantu elektronik yang disebut komputer. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan metode pengolahan data yang tepat
menuntut seorang system analyst untuk mampu memahami persyaratan-
persyaratan pengolahan maupun kemampuan-kemampuan mencapai hasil dari
setiap metode yang dipilih. Persyaratan pemilihan metode pengolahan data
dapat ditentukan dengan mempertimbangan hal-hal sebagai berikut:
  Volume unsur-unsur data yang dimuat
  Kompleksitas operasi pengolahan data yang diperlukan
  Batasan waktu pengolahan
  Tuntutan perhitungan

C.  Penutup
Dari uraian sebelumnya, Sistem Informasi Manajemen dapat didefinisikan
sebagai sekumpulan subsistem yang saling berhubungan, berkumpul bersama-
sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara
bagian satu dengan yang lainnya dengan cara-cara tertentu untuk melakukan
fungsi pengolahan data, menerima masukan (input) berupa data-data, kemudian
mengolahnya (processing), dan menghasilkan keluaran (output) berupa informasi

sebagai dasar bagi pengambilan keputusan yang berguna dan mempunyai nilai
nyata yang dapat dirasakan akibatnya baik pada saat itu juga maupun di masa
mendatang, mendukung kegiatan operasional, manajerial, dan strategis organisasi,
dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan tersedia bagi fungsi
tersebut guna mencapai tujuan.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Separuh Artikel - All Rights Reserved
Template Modify by Separuh Artikel
Proudly powered by Blogger